Sabtu, 26 Oktober 2013

Nabi Yusuf AS, Sang Manajer Logistik dan Pangan yang Handal

Banyak kisah menarik yang bisa kita dapat pada kisah-kisah para Nabi. Al-Qur’an mengabadikan banyak Kisah para Nabi agar ummat dapat belajar, memahami dan mengambil hikmahnya. Salah satu kisah yang menarik adalah kisah Nabi Yusuf A.S.

Kebanyakan dari kita saat mendengar kisah Nabi Yusuf A.S hanya pada cerita Nabi yusuf yang dibuang ke sumur oleh saudara-saudara (tiri)-nya, Ketampanan Nabi Yusuf yang mempesona banyak wanita terutama Siti Zulaikha dan Nabi Yusuf yang ahli di dalam menafsirkan mimpi.



Tapi ada kisah perjalanan Nabi Yusuf A.S yang menarik namun luput di dalam perhatian kita semua. Terutama kisah bagaimana nabi Yusuf A.S dapat mengelola dan memanajemen Pangan di dalam Negara saat itu di zaman Kerajaan Mesir. Semuanya berawal dari mimpi unik seorang penguasa Mesir.

Saat itu seorang Penguasa Mesir mendapat mimpi yang sangat unik dan mengganggu pikiran dan hatinya. Mimpinya yaitu ada tujuh ekor sapi yang gemuk yang kemudian mati dimakan oleh tujuh sapi yang kurus. Sang penguasa menganggap mimpi ini ada kaitannya dengan posisinya sebagai Penguasa Mesir. Seorang Penguasa yang menjadi puncak pimpinan untuk mengambil keputusan yang sangat krusial bagi seluruh Masyarakat yang hidup di bawah tanggung jawab-nya.

Mimpi itu tersebar dan banyak masyarakat yang bingung dengan mimpi sang Penguasa. Namun salah seorang Pelayan sang Penguasa ingat bahwa dia mengenal Nabi Yusuf A.S yang mampu menafsirkan mimpi saat mereka masih bersama di dalam penjara. Setelah pelayanan itu memberitahukan perihal kemampuan Nabi Yusuf A.S ke Sang Penguasa, maka penguasa tersebut langsung memerintahkan agar Nabi Yusuf A.S dikeluarkan dari penjara agar menemui dan menafsirkan mimpinya.

Ketika Nabi Yusuf A.S berhadapan dengan Sang Penguasa dan menceritakan perihal mimpinya, Nabi Yusuf langsung menafsirkan mimpi sang Penguasa. “Arti mimpi yang Mulia adalah Mesir akan mengalami tujuh tahun masa makmur dan tujuh tahun kemudian mengalami masa yang sulit”, kata nabi Yusuf A.S kepada sang Penguasa.

Sang Penguasa sangat kagum dengan kemampuan Nabi Yusuf A.S tersebut. Kemudian dari hasil diskusi dan pembicaraan yang mendalam akhirnya sang Penguasa mengangkat Nabi Yusuf A.S sebagai Pejabat Tinggi yang khusus menangani masalah Pangan dan Logistik di wilayah Kerajaan Mesir.

Mesir di era tersebut merupakan masyarakat yang maju di dalam Pearadaban dan Ilmu pengetahuan.. Ilmu Kimia, biolagi, biokimia dan arsitektur sangat berkembang saat itu. Kemampuan ilmu pengetahuan tersebut dikembangkan untuk Teknik Pertanian dan Pengawetan makanan.

Dengan modal perberdayaan masyarakat dengan peradaban yang tinggi tersebut, Nabi Yusuf A.S tidak banyak menemui masalah di dalam teknik dan manajemen pengelolaan Pangan saat pasca panen. Teknik pengawetan makanan, system sirkulasi pangan, Bangunan penyimpanan pangan yang sesuai standar, serta yang terpenting adalah peraturan dan pegaturan mengenai gaya hidup dan kosumsi masyarakat juga diperhatikan.

Masyarakat diajarkan bagaimana cara kosumsi pangan yang baik, sehat dan teratur. Tidak membuang-buang panganan dan mungkin juga diajarkan bagaimana mengelola sisa makanan agar dapat diolah menjadi panganan baru yang nilai dan mutunya tidak berkurang. Seperti yang sebagian masyarakat Indonesia lakukan misalnya menjadikan nasi sisa malam menjadi nasi goreng untuk sarapan pagi.

Pola hidup dan kosumsi seperti itu pasti sangat baru dan asing bagi masyarakat Mesir yang makmur. Namun Kebijakan yang dibuat oleh Nabi Yusuf A.S dibuat bukan hanya berlaku untuk masyarakat kalangan bawah tapi juga di tingkat para Pejabat dan Orang Kaya. Konsistensi pelaksanaan kebijakan tersebut awalnya pasti berat. Dan butuh waktu yang lama untuk mengubah karakter dan pola kosumsi masyarakat yang secara realita saat itu berlimpahnya pangan namun diatur kosumsinya seakan-akan Mesir mengalami krisis pangan.

Pembuktian dari keampuhan kebijakan Pangan tersebut terjadi setelah Mesir melewati masa tujuh tahun kemakmuran. Mesir memasuki masa-masa sulit dan krisis pangan. Iklim dan cuaca yang berubah sesuai siklus alamiah membuat tanah sulit digarap dan ketersediaan serta supply air semakin rendah. Kondisi tersebut membuat masyarakat petani yakin bahwa percuma untuk menggarap sawah dan ladang.

Namun karena masyarakat sudah dididik dan dibiasakan untuk hidup yang teratur maka masa-masa menjalani dan melewati krisis pangan dapat dihadapi tidak terlalu berat. Masyarakat dapat mengambil cadangan makanan yang ada digudang penyimpanan yang sudah tersedia oleh pemerintah. Penanganan logistic untuk masyarakat Mesir saat itu bukan hanya cukup bahkan melimpah. padahal saat itu Krisis Pangan terjadi di hampir seluruh Timur Tengah.

Dengan melimpahnya cadangan Pangan atau Logistik yang ada, bahkan menurut pengamatan para ahli biokimia saat itu jika tidak dikeluarkan panganan yang ada kemungkinan dapat busuk dan mengganggu cadangan pangan yang ada di gudang penyimpanan. Atas dasar itu maka Nabi yusuf A.S mengeluarkan kebijakan ekspor Pangan ke beberapa Negara tetangga yang dilanda krisis. Kebijakan ekspor pangan tersebut menjadi cerita akhir dari Kisah Nabi Yusuf A.S yang kemudian dapat bertemu kembali dengan keluarganya yang telah lama terpisah.

Cerita tersebut pasti menggugah kita yang hidup di Indonesia saat ini. Wilayah Indonesia yang tanahnya subur, airnya berlimpah jutru terjadi krisis pangan. Adalah aneh jika Indonesia mengaku Negara agraris justru mengimpor Kedelai, buah-buahan dan sayuran dari Negara tetangga. Kita impor sapi, padahal Negara kita punya potensi pengembangan ternak yang baik. Jika Negara kita tidak subur, wajar jika kita melakukan impor. Namun kondisi ini justru membuat kita merasa aneh dan heran. Apakah benar tanah kita tidak subur lagi? Ataukah bangsa kita tidak ahli di dalam pertanian? Apakah kita tidak memiliki ahli di dalam Teknologi dan manajemen pertanian? Ataukah lahannya yang semakin sempit? Atau kita telah berhenti menanam panganan dan beralih menanam Gedung-gedung mewah di lahan produktif yang terbukti lebih menguntungkan menurut iklan bisnis property di media massa daripada menanam panganan yang merugikan dan berbiaya mahal?!

Yang jelas, Nabi Yusuf A.S telah mengajarkan kepada kita cara dan manajemen yang handal di dalam mengelola Pertanian dan Pangan. Dan satu lagi yang perlu kita ingat, “Nabi Yusuf A.S sebelum menjadi Pejabat dan Manager yang Handal adalah mantan Narapidana” janagn sampai kita melakukan hal yang sebaliknya !!!!

sumber : eramuslim.com

Tidak ada komentar: