Minggu, 13 Februari 2011

Mubarak Menghitung Hari


VIVAnews –Mereka menyebut hari itu sebagai “Hari Hengkang”. Pada Jumat 4 Februari 2011, ratusan ribu warga Mesir tumpah di Lapangan Tahrir. Itu adalah hari kesepuluh massa menduduki alun-alun jembar di jantung kota Kairo itu.

Persis tengah hari, setelah salat Jumat, ratusan ribu suara berteriak kembali menuntut Presiden Mesir Hosni Mubarak turun. Orang-orang mengalir di Lapangan Tahrir, menjadikan tempat itu bak titik yang menyerap gelombang raksasa massa. Begitu salat usai, teriakan khas “Irhal (hengkang)” kembali bergema. “Tak ada negosiasi, sebelum dia hengkang”, massa berteriak.
Seorang alim, berjubah putih, berpidato lewat pengeras suara. Dia Mohamad Salim Al-Awwa, pemimpin salat Jumat di Lapangan Tahrir itu. “Berpuluh tahun kita bermimpi tentang lautan massa datang ke sini untuk berbicara,” ujar ulama moderat itu seperti dilaporkan oleh Time.com, Jumat 4 Februari. “Saya minta kalian semua kuat, tetap di sini sampai jalan keluar itu ada,” ujarnya. Massa menyambutnya dengan teriakan histeris.


Hosni Mubarak saat mendampingi Anwar Sadat (AP Photo/Bill Foley)

Mesir kini seperti terkena radang. Suhu politik meningkat tajam. Tapi Mubarak tetap keras kepala. Sehari sebelumnya dia menolak mundur. Setidaknya sampai September, begitu kata Mubarak. Maksudnya, bulan itu sesuai jatuh tempo Pemilu bagi Mesir. Untuk menghibur massa, Mubarak menyatakan dia sudah muak untuk berkuasa lagi.

Saat tampil di televisi pekan lalu, lelaki 82 tahun tampak lesu. Tapi matanya masih tajam memandang kamera. Di luar, setelah pidato “keras kepala” itu kelar, para pendukungnya bergerak. Ada yang menenteng senjata tajam, batu dan tongkat besi. Bentrokan pun pecah, antara pro dan anti sang presiden, Kamis 3 Februari.
Untunglah, pada esoknya militer menggelar razia. Setiap orang yang hendak ke Lapangan Tahrir digeledah. Senjata, batu, dan bom molotov dilarang.

Hanya dalam dua pekan, kehormatan Hosni Mubarak digugat rakyat. Dia mendadak menjadi orang paling dibenci di Mesir. Tapi hingga dua pekan  demontrasi mengguncang Kairo, dan kota lain di Mesir, Mubarak seperti tak hendak beranjak.
Dunia mungkin melihat seorang penguasa yang pongah. Tapi Mubarak bukanlah penguasa tak bertaji. Dia bekas pilot pesawat tempur, dengan ketenangan yang sangat mengagumkan. Berkuasa lebih dari 30 tahun, tentu memberinya banyak pelajaran penting.
Diberondong peluru

Mubarak melewati sejumlah tikungan, sebelum dia bisa bertahan lebih dari tiga dekade.  Awalnya, dia disukai presiden Mesir sebelumnya, Anwar Sadat. Sukses menjadi petinggi di Angkatan Udara, Mubarak ditunjuk Sadat menjadi wakil presiden pada 1975.
Pada 6 Oktober 1981, Presiden Anwar Sadat bersama sebelas orang lainnya tewas diberondong senjata, dan lemparan granat dari sekelompok tentara ekstrim.
Saat itu, ironisnya, Sadat sedang mengikuti upacara parade peringatan kemenangan pasukan Mesir atas Israel di Terusan Suez dalam Perang 1973. Wakil Presiden Hosni Mubarak selamat dari pembunuhan. Dia sebenarnya berdiri tak jauh dari Presiden Sadat dalam pawai militer itu.
Selanjutnya, Mubarak didaulat sebagai Presiden Mesir. Di tengah ketidakpastian politik paska pembunuhan Sadat, Mubarak lalu memberlakukan undang-undang keadaan darurat. Kekuasaan Mubarak lalu berjalan lempang, karena dia  mengekalkan Undang-undang Darurat itu hingga hari ini. Dia lalu muncul dengan wajah rezim berwatak otokratis. Mubarak mengharamkan kritik yang keras kepada penguasa. Dia bertindak kejam bagi gerakan oposisi Ikhwanul Muslimin.
Laporan Departemen Luar Negeri AS, yang mengutip sejumlah organisasi Hak Azasi Manusia, menyebutkan Mesir sarat dengan kasus hilangnya jurnalis dan aktivis, kekejaman dan kekerasan di tahanan, penyiksaan tanpa pengadilan, pengakuan paksa, dan pelanggaran HAM lainnya.
Pada 2007, organisasi HAM Mesir, melaporkan adanya 4.000 orang ditahan tanpa pengadilan. Mereka dituduh melakukan kejahatan politik. Sebanyak 1.000 di antaranya adalah aktivis Ikhwanul Muslimin. Meski dilarang berpolitik oleh Mubarak, gerakan Ikhwanul Muslimin rupanya tetap mampu membangun akar.
Tak tertarik politik
Lahir pada 4 Mei 1928 di suatu desa dekat Kairo, Mubarak adalah putra seorang pegawai kementrian kehakiman Mesir.  Dia lelaki dengan disiplin yang ketat. Semua itu ditempanya sejak belia. Misalnya, dia kerap bangun pukul enam pagi, dan tak pernah absen olah tubuh. Mubarak rajin main squash, tak merokok, dan jauh dari alkohol.
Itu sebabnya tubuhnya prima. Setelah lulus dari Akademi Militer pada 1949, Mubarak menjadi salah satu pilot idaman di  Angkatan Udara Mesir. Dia juga salah satu dari sedikit perwira yang bersekolah ke Soviet untuk berlatih pesawat tempur canggih di 1950an, seperti Ilyushin Il-28 dan pengebom Tupolev Tu-16 .
Mubarak menikah dengan perempuan blasteran Inggris lulusan American University at Cairo, Suzanne. Mereka dikaruniai dua putra, yaitu Gamal dan Alaa.
Politik sebetulnya bukan tujuan hidupnya. Seperti diungkap dalam dokumenter stasiun berita Al Jazeera, sebagai pilot muda, Hosni Mubarak berniat keras menjadi Panglima Angkatan Udara. Mimpi itu jadi kenyataan: dia mendapat jabatan itu pada 1972. Hanya setahun sebelum negaranya kembali berperang dengan Israel, Perang Ramadan atau Yom Kippur.
Kelak, pada Perang Arab-Israel 1973 itu pula Mubarak membuktikan dirinya sebagai militer sejati. Mesir berhasil memaksa Israel mengadakan perjanjian damai. Setidaknya, Mesir tak lagi malu dikalahkan Israel pada Perang Enam Hari di tahun 1967.
Sadat pun terkesan dengan kepiawaian Mubarak. Dia jago strategi, dan juga piawai memimpin modernisasi Angkatan Udara Mesir.
Karena Mubarak tampak tak punya ambisi politik, Presiden Mesir Anwar Sadat lalu mengangkat Mubarak sebagai wakil presiden pada 1975. Tiga tahun setelah itu, Sadat pun memberi jabatan wakil Ketua Umum Partai Demokratik Nasional (NDP) kepada dia.
NDP adalah partai politik dominan di Mesir. Sadat sepertinya menginginkan Mubarak menjadi pemimpin Mesir di masa depan.
Mendekati Saddam

Sejak menggantikan Sadat sebagai presiden, Mubarak tak melakukan perubahan radikal. Dalam soal politik luar negeri, misalnya, dia tetap melanjutkan visi pendahulunya, yaitu menjadi kekuatan moderat di Timur Tengah.
Pada suatu masa, status itu membuat Mesir sulit. Negeri itu dikucilkan oleh sesama negara Arab. Soalnya, Mesir adalah negara Arab pertama yang berdamai dengan Israel. Perjanjian damai dengan Israel itu adalah warisan Sadat pada 1979, yang akhirnya diteruskan Mubarak.
Seperti diceritakan oleh BBC, perjanjian itu membuat Mesir didepak dari Keanggotaan Liga Arab. Markas lembaga itu pun dipindah dari Kairo ke Tunisia. Mubarak pun cepat tanggap. Dia melirik Saddam Hussein, pemimpin Irak yang dulu sangat berpengaruh di Dunia Arab. Silaturahmi dengan Saddam ditingkatkan.
Pada 1980an, politik Timur Tengah bergolak lagi saat Perang Irak-Iran. Selama delapan tahun perang, peta politik berubah lagi. Ketika perang itu berakhir, hubungan Mesir dan sesama negara Arab pun membaik. Pada 1990, sekretariat Liga Arab pindah kembali ke Kairo. Hebatnya, Mubarak tetap mempertahankan hubungan dengan Israel.
Mesir di bawah Mubarak akhirnya menjadi kekuatan penting di Timur Tengah. Negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat dan Inggris, mengandalkan rezim Mubarak meredam radikalisme tetangganya menyangkut konflik Israel dan Palestina.
Israel terancam
Itu sebabnya, saat Mubarak di ujung tanduk pada hari-hari ini, Israel meminta AS dan beberapa sekutu lainnya di Eropa tak ikut melibas Mubarak. Kritik kepada Mubarak, kata Israel, hanya membuat situasi di Mesir kian tak stabil.
Menurut harian The Washington Post, Israel takut jika reformasi terjadi di Mesir,  semua struktur kerjasama kedua negara akan berubah. Jika Ikhwanul Muslimin bangkit, dan mengambil alih pemerintahan, dicemaskan Israel akan berdampak kepada naiknya semangat Hamas di Jalur Gaza. Daerah itu bakal dicaplok Hamas.
Israel juga risau, jika wajah Timur Tengah berubah. Jaringan teror al-Qaidah, ditakutkan mengambil kesempatan. Apalagi jika hubungan Mesir dan Israel kian berjarak. Tentu, ini bahaya buat negeri Yahudi itu.
Apalagi setelah Turki tak bisa lagi diandalkan paska penyerangan Israel ke kapal pemberi bantuan yang menewaskan sejumlah warga Turki tahun lalu. “Jika Mesir bermusuhan dengan Israel, malah akan memperburuk sengketa dengan Turki. Akibatnya, Israel harus mengubah total strategi yang telah dipakai lebih dari 30 tahun,” ujar peneliti di Studi Keamanan Nasional Institut Tel Aviv, Giora Eiland.
Korupsi
Mesir di bawah Mubarak konon mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik. "Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Mesir 5,3 persen dan tingkat pengangguran kami lebih rendah dari negara-negara lain, termasuk dari Tunisia," kata Duta Besar Mesir untuk Indonesia, Ahmed El Kewaisny.
Menurut ElKewaisny, Mubarak berjuang sebaik mungkin mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi guna menekan tingkat pengangguran. "Dia sendiri punya program untuk penciptaan lapangan kerja dan mendorong investasi asing," kata El Kewaisny.
Menurut stasiun berita BBC, di bawah kebijakan ekonomi Mubarak yang liberal, bisnis di Mesir bertumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Bisnis real estate dan properti, misalnya, terus berkembang. Ekonomi Mesir secara makro relatif aman.
Tapi tak demikian halnya dengan distribusi kemakmuran. Jarak kaya dan miskin begitu lebar. Angka kemakmuran itu tak banyak menetes ke bawah. Bagian besar keuntungan dinikmati Mubarak, keluarga serta kroninya. Sejumlah bisnis utama dikuasai putra Mubarak, Gamal Mubarak. Tentu, dia membaginya kepada sejumlah pengusaha yang bercokol di partai penguasa, Partai Demokratik Nasional.
Hampir separuh dari total populasi Mesir, atau sekitar 80 juta jiwa, hidup di bawah, atau sedikit di atas garis kemiskinan menurut standar PBB US$2 per hari. Dalam dua tahun terakhir, tingkat kemiskinan di Mesir naik dari 20 persen menjadi 23,4 persen.
Meluasnya kemiskinan, tingginya pengangguran, dan inflasi harga pangan inilah yang memantik protes ke Mubarak. Dia pun dituduh kelompok oposisi gagal memenuhi janji pada kampanye pemilu 2005. Saat itu dia mengatakan siap memberikan Mesir lapangan kerja, sekaligus menekan angka pengangguran.
Itu sebabnya, seorang pegawai kecil Ismail Syed pun bolos dari tempat kerja. Dia ikut berdemonstrasi di alun-alun Tahrir, Kairo, pada aksi 25 Januari lalu. "Ini adalah kali pertama bagi saya ikut unjuk rasa. Kami sudah menjadi bangsa penakut, tapi akhirnya kami berani mengatakan tidak," kata Ismail Syed.  Sebagai pekerja hotel di Kairo, upahnya US$50 per bulan, atau tak sampai Rp500.000.
Kelompok oposisi Mesir menuding rezim Mubarak tak serius memberantas korupsi yang kronis. Lembaga Global Coalition Against Corruption mencatat Mesir di peringkat 105, dalam daftar negara bersih pada 2006, sejajar dengan dua negara miskin Afrika, Burkina Faso dan Djibouti. Dua tahun kemudian, peringkat Mesir melorot di urutan 115.
Bertahan atau hengkang?
Pengamat Timur Tengah dari Lowy Institute for International Policy, Anthony Bubalo, menilai rezim Hosni Mubarak di Mesir sebenarnya bukanlah yang paling represif di Timur Tengah. Krisis itu bukan semata soal represifitas rezim. Tapi gabungan dari sejumlah masalah lain, seperti keruwetan ekonomi, dan parahnya ketimpangan sosial.
Kini, Mubarak seperti menghitung hari. Tak ada yang bisa memastikan kapan sang penguasa negeri seribu menara itu lengser. Entah pada September, atau bisa lebih lekas. "Yang perlu diperhatikan adalah sisa rezimnya, para pengikutnya. Yang mereka lakukan kini adalah berupaya mendapat otoritas politik sebesar-besarnya di tengah tuntutan massa," ujar Bubalo menambahkan.
Tapi dengan derasnya teriakan massa di Lapangan Tahrir itu, akankah Mubarak hengkang? "Bila bertahan hingga September, Mubarak mungkin bisa tetap tinggal di negerinya. Tapi, bila dipaksa mundur lebih cepat, dia barangkali akan memilih pergi ke luar negeri," ujar Bubalo. (np)
• VIVAnews

Tidak ada komentar: