Jumat, 21 Desember 2012

Makan Papeda dan Kisah TNI Bertemu Prajurit Suku Papua

detikTravel Community - Menikmati Papeda di Papua mungkin terdengar biasa saja. Tetapi, menikmati santapan ini di pinggir Danau Sentani sembari menyimak kisah kontak awal tentara Indonesia dengan suku pedalaman Papua, membuatnya menjadi istimewa! Walaupun menjadi bandara utama di Jayapura, lokasi Bandara Sentani cukup jauh dari riuh Kota Jayapura.

Perjalanan dari bandara ke pusat kota pun akan memakan waktu beberapa lama. Beruntunglah saya dan tim Dream Destination Papua menyempatkan diri singgah di Restoran Yougwa. Restoran ini terletak di Jalan Poros Sentani-Jayapura dengan dominasi kayu dan semilir angin yang sejuk. Restoran ini telah menjadi primadona banyak pejabat negara ini. Semua karena restoran ini tidak hanya menawarkan makanan yang lezat, tapi juga pemandangan Danau Sentani yang cantik.

Ya, lokasinya tepat berada di pinggir Danau Sentani. Hampir mendekati akhir perjalanan kami menjelajah Papua, cukup disayangkan saya belum pernah menikmati Papeda.
Kesempatan kali ini tidak saya sia-siakan. Tanpa berpikir panjang, seporsi papeda lengkap dengan ikan gabus kuah kuning menjadi pilihan saya.

Saya cukup terkejut saat melihat seporsi papeda yang berbahan dasar sagu ini mereka sajikan di atas meja. Porsinya yang sangat besar sanggup memenuhi perut tiga orang! Papeda yang kenyal dan kombinasi asam serta gurihnya ikan gabus kuah kuning serasa melebur di lidah dan memberikan sensasi rasa yang sangat enak. Dengan harga berkisar Rp 20.000 hingga 55.000, kita sudah bisa menikmati seporsi Papeda dan ikan kuah kuning. Tentunya terdapat beberapa macam pilihan ikan bagi mereka yang ingin mengeksplorasi rasa secara mendalam.

Menikmati santapan lezat bersama pemandangan indah tidak hanya memberi asupan pada perut tapi juga jiwa. Restoran Yougwa tidak hanya menjadikan pemandangan Danau Sentani sebagai 'jualan' utama. Satu yang menarik perhatian saya adalah artikel-artikel yang terpasang di dinding-dinding restoran. Artikel yang menceritakan kontak awal seorang tentara Indonesia dengan masyarakat pedalaman Papua.
Cara sangat menarik! Membuat saya ikut kita terlarut dalam kisah serunya berinteraksi dengan suku-suku pedalaman Papua untuk pertama kalinya.

Dalam salah satu artikelnya, ada cerita tentang pengalaman rombongan mereka 'disergap' oleh sekelompok prajurit suku pedalaman Papua. Lalu bagaimana mereka menjadikan rokok dan permen, sebagai media penjalin persahabatan.

Menarik! Artikel-artikel yang rupanya merupakan kumpulan kliping koran ini ditulis dengan ejaan lama bahasa Indonesia. Membuat saya bertanya-tanya, siapa kira-kira sang penulis yang pastinya sudah berusia sangat tua.

Kemudian dari seorang karyawan toko, saya mengetahui bahwa konon sang penulis adalah pemilik restoran itu sendiri. Wah, sungguh menginspirasi!

Tidak ada komentar: