Selasa, 22 Februari 2011

Sinyal Wafatnya Sepakbola

SIAPA tidak tahu ketangguhan Timnas Brasil, Belanda, Spanyol, Jerman atau Italia. Negara yang selalu menghiasi perhelatan Piala Dunia. Apakah Anda ingin Indonesia seperti kelima negara tersebut? Bocah sekolah dasar pun pasti menjawab ya.

Mungkin jawabannya berbeda ketika pertanyaannya dilontarkan kepada orang dewasa atau oknum pejabat di negeri tercinta ini. Dengan dasar satu kepentingan, oknum pejabat di negeri ini lebih memilih jawaban tidak perlu. Memikirkan proyek yang mendatangkan finansial besar lebih realistis bagi mereka.

Prolog di atas hanya sekadar cermin bangsa ini. Bangsa besar yang seharusnya menjadi panutan negara lain, terutama dalam sektor olahraga. Kenyataannya sangat bertolak belakang. Penggusuran sarana olahraga seperti lapangan sepakbola dengan mudah dilakukan. Stadion Menteng sudah berubah wujud dan lapangan Union Makes Strenght (UMS) harus menghentikan kegiatannya. Stadion Lebak Bulus kini teramcam bakal rata dengan tanah.

Stadion yang pernah menjadi markas Persija Jakarta akan dilebur oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Nantinya, Stadion Lebak Bulus masuk dalam area proyek Mass Rapid Transit (MRT) atau yang lebih dikenal dengan subway. Tahun ini, Stadion yang terletak di wilayah selatan Jakarta itu akan dirobohkan.

Mimpi anak negeri ini untuk menjadi penerus legenda sepakbola Indonesia seperti Iswadi Idris, Ronny Pasla dan Ricky Yakobi mungkin tidak terwujud untuk selamanya. Untuk menjadi pemain sehebat mereka, pemerintah tentunya harus menyediakan sarana dan prasarana memadai. Salah satunya lapangan sepakbola.

Bila ingin sepakbola negeri ini maju, seharusnya pemerintah membangun sarana pembinaan sepakbola memadai di setiap keacamatan atau kota. Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional pun mengamanatkan demikian. Tidak ada alasan bagi pemerintah menunda atau menolak menyediakan fasilitas sepakbola memadai. Sebaliknya, beberapa fasilitas sepakbola justru luluh lantak karena berbagai kepentingan.

Bertaburnya lapangan sepakbola pasti bakal meningkatkan animo anak-anak bangsa bermain dan menjadi pemain hebat. Anak-anak dengan mudah menyalurkan minat sebagai pemain handal karena fasilitas yang memadai. Pola pembinaan dari tingkat paling bawah pun berjalan baik dan banyak cikal bakal pemain hebat di Bumi Pertiwi ini.

Tapi apa yang dialami embrio sepakbola Republik Indonesia ini sungguh tragis. Mereka semakin sulit mencari arena bermain sepakbola. Andai pun ada, mereka harus mengeluarkan kocek cukup besar yang sangat tidak masuk akal bagi rakyat kecil. Mereka harus menyewa lapangan yang mencapai ratusan ribu atau jutaan hanya untuk bermain selama satu hingga dua jam.

Kondisi ini memaksa mereka memeras otak untuk bermain sepakbola. Jalan raya dijadikan alternatif utama untuk menunjukkan bakat dan hobinya. Mara bahaya dan petaka pun menanti para calon pahlawan olahraga itu. Lagi-lagi orang kecil tetap menjadi sasaran tembak karena bermain sepakbola bukan ditempatnya.

Bersamaan Stadion Menteng, Stadion Lebak Bulus dihancurkan serta dihentikannya aktivitas pembinaan di Lapangan UMS, berarti menjadi sinyal wafatnya pembinaan sepakola, terutama di Ibu Kota Jakarta. Padahal, pemerintah wajib menyediakan sarana olahraga, termasuk sepakbola untuk warganya.

Bila demikian, jangan pernah lagi semua pihak termasuk pemerintah bermimpi Indonesia bisa menjadi Brasil atau Spanyol. Jangan pernah berharap lagu Indonesia Raya berkumandang di luar negeri karena tim nasional menjadi jawara. Tanggalkan semua target saat tampil di ajang internasional.

Kejayaan Timnas Merah Putih di era Iswadi Idris, Ronny Pasla dan Ricky Yakobi tidak akan terulang. Pahlawan sepakbola Indonesia itu hanya akan tercatat dalam sejarah. Anak-anak di negeri ini hanya bisa membaca, tanpa ada secuil pun kesempatan untuk mengikuti prestasi Iswadi, Ronny, dan Ricky


Sumber :http://suar.okezone.com/read/2011/02/11/59/423763/59/sinyal-wafatnya-sepakbola

Tidak ada komentar: